Selasa, 07 Juli 2009

EXTRA : Antologi Puisi

Gepeng Nugroho,

Karya di tahun 2005


Untuk Seorang Wanitaku

Malam mengadung melati

Dari tetesan hujan yang mengguyur basahi sinar rembulan

Kilau wajah yang setengah teduh oleh sinar redup lampion

Diburu kurcaci dari rongga langit

Pada senyum yang mengingatkan kejantanaku

Membidik awan dan menelanjangi warna perak kesumat mimpi

Ditengah ruang yang memunculkan rupa-rupa

Wajahmu yang menerkam semua kunang

Pada lentera yang kobarkan warna keemasan tubuh kita

Ronggaku tercekik oleh lembar kata-kata yang belum sempat terlontar

Pada m,endung yang berikan tanda terhadap malam gerimis

Pada sore tadi, wajahmu belum lengang

Wajahmu belum lengang, karena kataku adalah sisi tajam pisau

Wajahmu belum lengang, karena belum habis kata-kata pemujaanku

Wajahmu belum lengang, karena senyummu adalah mata pisau

Wajahmu belum lengang, karena telah menikam dan bersarang dijantungku

Sampai malam inipun, dewa cinta menebarkan virusnya

Bersama redup lampion dan bau kesturi, kukagumi wajahmu

Tanganku menusap lembut rambut panjangmu, kuharap

Pada tikar pandan menjadi parmadani dan ranjang kita.




Sajak seorang sahabat kepada lelakinya, atas kekecewaan

Dibagian terdepan lembar harapku

Ada sajak coreng moreng dari tinta biruku

Dan petakan kesetiaan sampai pada batas sadar

Kau rajuk dibalik garis cinta

Kugenapi malam dengan angka-angka atas rinduku

Dan kau yang memberi sekat hati

Ini adalah kesetiaanku untukmu

Ini adalah beban dari jejal harapku atas engkau

Ini adalah milikmu

Kenapa kau hentikan dengan dustamu?

Kenapa kau pecahkan dengan gada egomu?

Ini adalah racun atas lemah jiwaku

Sayang, coba kita terpejam

Berapa jarak semarang – magelang

Adalah sepanjang kesetiaanku

Dan berbatas dustamu ……




Untuk garis batas pengagumanku

Aku lukis wajahmu pada perjalanan keping darahku

Menghentikan bola mata, menghardik lembar udara

Memintal syaraf

Pada bangku dan kursi beku

Deretan huruf dan angka-angka

Warnamu menyirat sukmamu




Sebuah perjumpaan

Kenapa kita masih diam ?

Kenapa kita baru berjumpa?

Kenapa kita berjarak?

Serba misterius

Berapa pertanyaan yang kan kau ajukan untukku?




Untuk bekas sebuah harapan

Sempat kau tutup mataku dengan rayumu

Bukan sekedar rayu tapi selongsong peluru

Tak dapat kuteruskan sajakku

Aku lupa wajahmu……………….



Suatu ketika, kebingunganku

Kupu-kupu hitam hinggap pada sajadah sembahyangku

Laron terbang dari tangan , kemudian rontok terkapar

Memetakan wajah pada lembar absensi

Kau memandang malam berhujan,

Pada sepi kutenggelam

Lelah

Kucari jantungku sampai pada sudut dan

gumpalan waktu




Titik Endap Khianat

Pada rambut anggraeni panji titipkan rindu

Pada bingkai wajah aku selipkan dahaga

Samudra berbusa oleh gumpalan ombak

Kabut menutupi pucuk cemara di setapak gunung

Racun menyedot umur ditengah kerlip metropolitan

Cinta hambar pada pergantian waktu

Pada waktu kutumpahkan ciptaku

Pada harapan kutambatkan jangkar dan tulang rapuhku

Pada anak cucuku kutebaskan umurku

Pada wanitaku kubidikan penyesalanku

Kapal sekoci telah tenggelam pada palung waktu

Disekitar kita kapal pesiar

Beradu dengan peghianatan

Aku berikan tawaran pada waktu akan datang

Tuhan berikan nasib dan jodoh




Beberkan kesetiaan pada lelaki itu

Lelaki bertengkar pada malam

Meminjam lolongan anjing dan satwa

Tinggal berdiam dan meniduri samsara

Terbang kesadaran bersama kelebat kelelawar

“aku lupakan janji, karena dia melupakan sumpah

aku terkam mimpi karena dia tikam hati

aku robek rembulan, karena dia racuni bintang-bintang

aku matikan rasa, karena dia mabukan murka”

lelaki duduk bersila dan berucap :

“kubuang saja kesetiaanku

menatap wanita berkubang dalam asbak,

esok kubelanjakan kesetiaan dipasar dan emper pertokoan cina”

isyarat dendam merasuk dalam rapuh waktu

dipenghujung malam masih janjikan sisa mimpi




Prolog I

Kubukukan kembali kisah ini

Dalam lembar terdepan berikutnya

Menunggu usang kisah sebelumnya


Prolog II

Di ujung sangkur, matamu berbicara

Pada ranjang kutukan dimulai

Menanti malam siap menerkam karang

Batin membatu diujung sendawa



Prolog III

Esok matahari masih terbit dari barat

Namun kemana arah mata angin aku bertanya




Prolog IV

Kusisakan tapak kaki pada pasir

Sebentar lagi ombak laut akan menghapusnya


Prolog V

Aku sisakan sebagian nafasku

Untuk membidik rembulan, dan menenggelamkan samudra pada kawah

Pada teraungan wadas aku ambil gambarmu, lewat kilatan halelintar

Sementara kuserahkan nyawa pada badai tak berbencana


Prolog VI

Retorika

Retorika

Aku makan dan kusumpal telingaku dengan suara suara anak

Berbekal kuda tebog pinggir kota



Pasrah

Mengungkap payau kisah dari anggraeni

Bertekuk lutut pada ruas megah panji

Telunjukku menahan matahari

Agar malam tak segera terang

Beberapa perjamuan dengan dewa-dewa belum tercambangi

Dan sebagian kitab asmaradana masih terselip ditulang iga

Ku jauhkan rinduku dari sajak

Cukup hatiku yang kaku dan memandang separo rembulan

Separo yang laen untuk wanita dalam takdirku

Lalu menunggu racun mengakses nyawa

Lewat darahku

Tunggui aku,

Dan baringkan ditubuhmu




Aku Penyamun Itu

Selat merekah menunggu hujan

Di tujuh hulu, air berkilau memecah kilat halelintar

Lalu mengikatnya kembali menjadi buah dendam

Pada sejarah yang tak kembali

Sisa sejarah yang terjajah

Maafkan aku

Yang menyekapmu

Lalu membuang di tengah samudra




Lelaki Pemakan Maut

Kenapa tak kau nikmati saja ranum bibir istrimu

Malam ini .........

Telah kau hentikan di depan durga pemujaanmu

Dan manantang maut ditengah cakrawala

Telah tersimpan keletihanmu pada telaga

Terbakar habis pada batang rokok kemenyan

Dan sukmamu berkubang didalam asbak

Yang lekas terbang menyatu pada mendung berarak

Kau minum darah orang-orang dijantung kota

Pada batas kematian dan ketakutan

Sambil memegang lapar dengan ujung bilah pisau

Di sudut ini, kantung-kantung pejalan terancam maut


Aku Berbolak-balik

Kepada Rahmawati

Aku yang telah menghianatimu

Pria ini bukanlah yang dulu

yang kagumi rambut panjangmu

yang nyanyikan kebisuanmu, bercerita

dan janjikan bagian hatinya

Lihat wajahnya, telah kusam

telah banyak yang menjamah

pipi, bibir, kening, termasuk hati

mereka telah punya hak

telah ada stempel ratusan dewa

diperkuat dengan paraf dewa urusan perselingkuhan

Aku bukan lelakimu lagi

yang bijak dan suci seperti brahmana di acara resepsi

lelakimu adalah kucing, yang pandai

menggelian mencari pembenaran

lelakimu adalah karyawan free line sebuah penerbit roman picisan

yang beredar setiap tumbuh syahwatnya

lelakimu bukan lagi lelaki

yang setia menunggu kebisuanmu

lupakan lelakimu…………




Mataku tertuju pada cicak

Cicak, cicak…

Mengedap suara malam dengan perenungan

menceritakan perjalanan hidup, denganku di pembaringan

Cicak, cicak….

Kukisahkan dukaku, lukaku, penatku,

lunglaiku, resahku, gairahku, citaku

harapku, idealismeku, jangkauku, cintaku

hidupku, jalanku, sejarahku, kebusukanku

luhurku………

cicak,cicak………

bertenger tenang di tembok kamar

sinar lampu lewat jendela rumah-rumah telah di matikan

sayup suara batuk dari rumah tetangga

gejala influenza barangkali

sesekali suara cicak juga mengejutkan

tanganku mulai malas menulis

demikian halnya mataku

tak dapat berkompromi

cicak, cicak……..

bangunkan aku esok hari


Mata - mata

Alzais

Ribuan pasang serigala tajam

Taringnya memaksa menerkam dan mengerat jantungku

Ribuan pasang mata mendendam

Menebar racun pada robekan ozon

Terhadap cengkrama kita, aku percaya

Karena kita memang tengah mabuk

Dan arah penjuru mata angin tak jelas

Oleh kasat mata

Al zais

Ribuan pasang mata serigala lapar

Mengincar tulang rapuhku, padahal sementara ini hanya itu

yang aku punya

aku berpegangan pada pinggulmu yang anggun

dan tanganmu yang tengah coba petakan dunia

untuk tentramkan kegusaranku

Alzais

Pasang-pasang mata sangar itu entah musuh atau dosaku

Karena semakin nyata dalam mata terpejamku

Alzais

Dekatkan tubuhmu, agar aku bisa memelukmu

Paling tidak mengurangi rasa takutku

Alzais

Kita mengungsi di puncak fujiyama dengan rajawali

Pindahkan menara eifel dan monas

Kita susun, dan berdiri kita di pucuknya

Borobudur tempat perenungan kita

Atau cukup dengan madumu, telah mampu atasi ?

Karna warna antariksa ada padamu

Alzais……….


MENUNGGU ANAKKU

Seorang lelaki terjepit diantara reruntuhan rumahnya. Pelan dengan menahan rasa sakit.

Atmojo : (berusaha mengangkat gawangan pintu yang menindih tubuhnya) akh……. Oeeeee… aku disini… aku terjepit…. Cepat, kakiku mungkin patah. Siapa yang mendengarku. Benar tidak ada yang mendengar? Kalo begitu jangan tolong aku, tolong dulu yang lain. Cepat dibawah almari diantara tumpukan runtuhan tembok itu mungkin adalah istriku. Jangan hiraukan aku, nanti sajalah, aku gampang. Aku bisa atasi kesulitanku sendiri. Tapi tidak bagi istriku. Cepat…… kalian pada kemana, dimana kalian, jangan pada lari, jangan pada ngumpet. Oeeeeee…. Istriku terjepit. Dia minta tolong, kalian tidak mendengar, aku juga sedang ada masalah besar pada kakiku! Semuanya bisu…… diam. Apa kalian mati?

Mengangkat benda yang menjepitya. Kemudian bangun tergopoh.

Atmojo : benar ternyata kalian juga mati, pantes saja tidak mendengar teriakanku, sampai suaraku sembret. Kali ini aku tidak lagi bermain sandiwara, kau pikir pincangku pura-pura dengan ditindih bangunan rumah yang berat itu? Jangan sembarangan, rumahku sudah standart, kau lihat saja lantai yang berkeramik dengan tiang penyangga betonnya, aku desain semenarik mungkin, aku orangnya tidak mau setengah-setengah, bangunan ini dibangun dengan pertimbangan kenyamanan, artistic, kemewahan walaupun tidak mewah-mewah amat tapi paling tidak rumahku nomer dua paling indah di kampung ini setelah haji maman. Ya aku tidak heran, haji maman memang tuan tanah, dan aku juga tahu rumah mewahnya itu dibangun dengan menjual sawahnya yang 2 hektar, sisanya untuk pergi haji. Tapi aku kan tidak, 9 tahun aku mengumpulkan duit dari usaha warung makanku, selama itu aku harus prihatin. Tidak datang dari langit begitu saja rumah ini. Untung saja aku punya istri seperti……. Kenapa kalian biarkan aku ngoceh terus??!! Mila….. mungkin ada beton tadi yang mampir di kepalaku…… dia ada ditumpukan itu. Dia masih lemah….. anakku… anakku juga….. aku belum sempat membopongnya… memang harus aku……..

Lampu padam, berdiri pada sebuah sudut fokos lampu

Atmojo : aku seperti orang kesetanan mengolak-alik hartaku yang telah hancur, tidak seoramh pun yang membantuku. Oaring-orang juga seperti aku, kesetanan, berteriak, air mata juga tidak adada istilah malu di kucurkan. aku lupa dimana letak kamar karena semua telah rata. Tapi aku kenal betul bau tubuh istriku. Aku belum pernah lakukan kerjaan kasar mengorek-orek bangunan sebelumnya, tapi aku sudah kelewat ganas. Kutemukan tangan istriku sedang memegang selimut, barulah aku dapatkan wajah dan kepalanya yang sudah penuh dengan darah. Benar juga perkiraanku, tubuh istriku tertindih almari pakean dari kayu jati. Aku kuasai tubuh istriku, tangisku makin menjadi. Dan orang-orang juga tidak peduli, karena masing-masing dari mereka juga menangisi kematian keluarga mereka. aku tidak malu mengekuarkan air mata karena banyak teman. (menangis) seperti layaknya paduan suara, tangisan kami……… mbah narti dukun bayi sambil menggendong bayiku yang pertama, yang masih amis oleh darah istriku, tali pusarnyapun belum sempat dipotong, dia hanya memandangku, dia satu-satunya orang yang tidak menangis, karena tidak ada yang ditangisi, hanya sebatang kara, mungkin juga dia sudah enek dengan tangisan. Aku dengar jagoanku menangis yang paling hebat saat itu, walupun belum ada yang ngajarin. Dia pasti terkejut dengan sara bising tadi. Baru saja dia keluar dari rahim ibunya, dia perlu ketenangan. “jangan berisik, berhenti menangis!” aku bilang pada semua orang, kalian tidak lihat anakku terkejut karena tingkah kalian. Biasa sajalah, kelahiran anakku jangan kalian sambut dengan kebisingan, dia kaget, apa mau tanggung jawab kalau jantung anakku putus?

Atmojo : setan, semua tak menghiraukan omonganku lagi, malah semakin gaduh mereka, seperti mengejekku.

Duduk pada sebuah puing reruntuhan. Bicara pada anaknya.

Atmojo : itulah mereka nak, sekarang tampak jelaskan kalu kita semua individualis, kita tak bisa menyalahkan mereka, memang, menangis, merasakan sedih, sengsara sebisa mungkin harus individu, jangan ajak yang lain dalam hal itu, bermainlah sendiri, nanti ketika kita senang, foya-foya ajak orang lain. Kamu tidak usah memikirkan itu, biar bapak nanti yang urus, yang terpenting sekarang bagi kamu adalah bagaimana bisa tidur dengan nyenyak, dengan perut kenyang, tidak nangis terus bisa bikin judek bapakmu.

Atmojo : bagaimana dia bisa tenang, kalo tidak ada yang bisa ngelonin? Tidak ada kasur tidur,tempat berteduh, selimut. Anakku juga tidak sembarangan makanan yang bisa masuk diperutnya, baru sejam yang lalu di lahir, dan sejak satu jam yang lalu tangisnyapun belum berhenti, sampai nafasnya tersenggal-senggal. Apa mungkin aku poeras susu ibunya yang sudah menjadi mayat?

Atmojo : sampai akhirnya anakku berhenti sendiri menangis karena kecapekan. Aku harus tipu susu ibunya dengan cengkir buah kelapa. Dia kan belum ngerti rasanya air susu ibunya, jadi mungkin itu dianggap air susu itu. Maafkan bapakmu ya nak.

Atmojo : aku sertakan penguburan istriku, ibu dari jabang bayiku dengan mayat-mayat yang lain, tidak ada tangisan sehisteris pagi tadi, karena mungkin air mata sudah pada kering, atau mungkin mereka berfikiran jangan sampai tangisan mereka menjadi lagu kebesaran penguburan missal itu. Urbanisasi tanah kuburan makin bertambah sore itu. Mata hari mulai memerah, wajah-wajah yang kumal, capek dan sedih tidak begitu jelas pada mereka, biuasa-biasa saja, barang kali secepatitu mereka telah bebal dan bosan dengan kesedihan yang mereka buat sendiri.

Atmojo : hari ini bapak makan tela nak, seperti orang-orang disini juga, beras sebenarnya ada banyak, kalo mau mengambil dari timbunan reruntuhan, tapi kami semua belum sempat, dan masih sangat panic, makanya, masakpun tidak sempat. Yang ada sajalah yang bisa dimakan ya di makan. Ibumu juga belum masak tadi, sudah keburu mati. Kamu juga ditinggal begitu saja, tak apa, selagi bapak belum menemukan air susu yang pas dengan seleramu kamu makan cengkir kelapa dulu ya?

Atmojo : tidak terhitung berapa kali dalam hari itu jabang bayiku menangis, malam ini aku buatkan sarang untuknya tidur, yang penting menghangatkan tubuhnya.

Atmojo : (pada seseorang) apa? Pertanyaan itu yang juga sore tadi ditanyakan wartawan. Apa warga belum mendapatkan bantuan? Kalo sudah mendapatkan bantuan kan ya kami tidak bakalan terlantar seperti. Kami berada di desa yang masih ujung, bantuan itu sudah dijarah oleh warga yang ada dipinggiran. Apa? Sudah cukup jangan Tanya yang neko-neko lagi, kami tidak berminat masuk tivi atau surat kabar, yang kami inginkan sekarang adalah mengisi perut kami, kami lapar.

Atmojo : Wela…… kan sudah jelas aku sampaikan barusan, kami tidak akan jadi terkenal dan dapatkan apa-apa dari wawancara itu, bukankah view-view reruntuhan dan mayat-mayat itu sudah cukup. Mendingan kalian pergi saja, aku sedang sensitif. Wartawan itu masih ngeyel juga,

Atmojo : katanya : mas ini bisa mengetuk dermawan dan masyarakat untuk bisa kirimkan bantuan ketempat ini.

Atmojo : Aku pengennya sekarang, sudah lapar.

Atmojo : Perlu waktu mas, paling enganggak mungkin besok.

Atmojo : Apa kamu bisa menjamin?

Atmojo : ya…. Bukan begitu mas……

Atmojo : belum sempat wartawan itu menyelesaikan kakalimatnya, tiba-tiba saja tinjuku melayang dimukanya, karena darahku naik barangkali, beberapa orang menisahkan terjanganku, kulihat satu giginya rontok dan darahnya keluar dari mulutnya. Itu hadiah bagi orang yang ngeyel.

Atmojo : sehari kemudian bantuan sudah bisa masuk, barangkali di pinggiran sana sudah banyak bantuan yang terkompul, sehingga biarkan truk pertama yang mabawa tumpukan dus mie instant. Banyak juga orang asing, yang belum pernah kami lihat sebelumnya berdatangan ke kampung kami. Tenda=tenda mulai dibangun, kampung kami menjadi seperti pasar malam dadakan dengan hadirnya bendera-bendera beraneka ragam instransi, yayasan, sampai pada bendera clup sepakbola tingkat RT juga ada. Kami seolah menjadi obyek, kami menjadi sangat bodoh dengan pandangan ciut mereka kearah kami.

Atmojo : baguslah kalau begitu, sebagai obyek pesakitan, obyek penelitian, obyek apalah namanya, yang penting kami tinggal terima saja belas kasihan itu. Tanpa terlalu banyak berkomentar atau banayak tuntutan.

Atmojo : masa bodoh lah, kalao ternyata bencana ini menjadi sebuah proyek bagi sebagaian yayasan atau instansi yang memakai bantuan terhadap kami sebagai stempel sakti untuk mendapatkan duit. Masa bodohlah kalo begitu. Kami seolah menjadi hewan ternak yang dimanjakan. Tak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.

Terjadi kericuhan

Atmojo : ha apa? Siapa lagi sekarang yang mati? Oh orang itu? Cepat angkat, panggilkan medis. Ya, harus segera dilarikan kerumah sakit, apa sudah penuh? Wajar saja sudah penuh memang sedang lagi pada sakit, lalu bagaimana? Ha…. Kamu mau tanggung jawab? Kasih minum air kelapa sementara………. Pada hari ketiga setelah jatah makan pagi, tiba-tiba saja terjadi kekacauan, lebih dari 3oo orang keracunan, semua orang yang memakan makanan bungkus itu keracunan, muntah-muntah, pucat, pingsan, banayk juga yang tak tertolong kemudian mati. Ya wajar saja racun dicampur dalam makanan………….. hehehheheeee……….

Atmojo : ya, aku akui akulah yang menaburkan racun tikus dalam makanan mereka, aku temukan racun tikus itu diantara tumpukan reruntuhan bangunan, dari pada tidak dipakai? Hahahahaaa…… bukan itu sebenarnya alasan aku menabur racun itu, entah setan darimana yang membisikiku, aku hanay inigin kami senua mati saja, daripada hidup konyol seperti ini. Setelah sarapan pagi itu di bagikan pada seluryh warga dalam bungkusan-bungkusan, kemudian warga memakannya, aku saksikan satu persatu mulai KO. Yang terpikir saat itu adalah aku juga ingin mati bersama-sama dengan mereka, karena bangunan yang menindihku kemarin tidak bisa merengut nyawaku.

Atmojo : mbah….. tolong jagakan anakku, rawatlah dia, aku tidak mampu merawatnya, paling tidak sampeyan tahu benar apa yang dibutuhkan bayiku. Kabari aku nanti mbok di alam baka kalo anakku sudah sukses, aku akan pantau dari sana.

Atmojo : Tapi ketika maut itu sudah didepan mulutku tiba-tiba saja anakku menangis, mungkin dia paham benar ayahnya ingin bunuh diri. Apa aku ajak dia mati juga bersamaku? Tapi dia belum bisa aku ajak mati, dia kan belum bisa makan nasi bungkus.

Atmojo : aku jadi merasa bersalah…… tapi brengseknya lagi keika keributan itu terjadi, ketika orang-orang kalut pengen menyelamatkan diri dari racun itu, ada orang yang memanfaatkan kekalutan itu dengan mengangkuti barang-barang berharga yang tersisa. Dasar maling……. Masih teganya menjarah.

Atmojo : sssstttt…. Hanya kalian tahu persoalan ini. Aku sudah cukup bersalah, menyesal, tak perlu lagi hukumna diberikan kepadaku. Baik…. Akiu akan tampar saja diriku sendiri…. Jangan minta lebih dari itu…. Apa kalian tak kasian denganku? Ada jabang bayi yang membutuhkanku.

Atmojo : anakku bukan bayi yang sembarangan, perlu dicatat.

Atmojo : (Resah) istriku belum genap mengandung 9 bulan. Baru berjalan 8 bulan, namun begitu segal;a persiapan untuk kelahiran anakku telah aku persiapkan, susdah 5 tahun kami menikah, ini adalah anak kami yang pertama, dari awal aku sudah menginginkan anak laki-laki. Sejak mabh narti masuk ke rumah, perasaanku sungguh tak karuan. Sejak subuh tadi mabh narti mulai memijit istriku, istrikupun Manahan sakit yang bikin aku jadi ngeri ketika mendengarnya, aku juga ikut merasakan kesakitan itu.

Atmojo : bagaimana mbah?

Atmojo : cerewet, kamu berdoa saja, jangan ganggu proses.

Atmojo : aku dengar istriku meminta aku menemaninya, tapi………….

Atmojo : dek, maaf mas takut kalo harus kesitu, mas takut dengan darah.

Atmojo : (perempuan) mas….. apakah tidak ingin menyaksikan pertama kali anakmu mengenal dunia?

Atmojo : maaf dek, kali ini permintaanmu terpaksa aku tolak, dari pada aku pingsan kerena melihat darah.

Atmojo : teriakan dan nafas tersenggal-sengal istriku makin jelas saja, pagi mulai dengan rupa-rupa oleh cahaya matahari yang menyembul dari balik pepohonan. Jantungku makin berdenyut kencang. Makin kencang makin kencang, makin kencang, makin kencang, lebih kencang, kusaksikan asbak diatas meja tiba-tiba gemetar, ada sebuah goncangan, barang-barang ikut bergoyang, makin jelas menggoncang, he… ini bukan lagi karena denyut jantungku……. Aku mendengar tangis jabang bayiku. Makin kencang, mengguncang, kencang….. aku tak tengah mabuk kan? Kencang………..

Sebuah guncangan

Beberapa saat berhenti.

Atmojo : sesaat tak kudengar tangis jabang bayiku. Semua tiba-tiba serba gelap. Tahu-tahu aku sudah ada pada tumpukan reruntuhan itu. Beberapa detik lamanya aku tak tersadar. Tak ada juga yang aku pikirkan.

Atmojo : beruntung mbah rahmi sempat membawa keluar jagoanku ketika kau tak bisa berbuat apa-apa karena terlebih dulu kepalaku sudah dihajar oleh runtuhan bangunan.

Sebuah musik dan koreo

Atmojo : ketika anakku berumur 6 tahun, kampung ini telah menjadi kampung bedeng, kami hidup selama bertahun-trahun pada rumah-rumah bedeng, maunya sementara saja, tapi akupun belum mampu untuk menyulap rumah menjadi megah seperti ketika dulu aku menjadi pengusaha warung makan. Anakku dengan teman sebayanya menghabiskan waktu bermain di perempatan lampu merah untuk mengamen, dia anak pinter…….. mau membantu kesusahan orang tua. Kehidupan menjadi sangat keras, di kota ini kejahatan juga semakin meningkat dalam 6 tahun ini, lokalisasi berkembang pesat, maklum banyak orang yang telah menjadi miskin dan lapar. Makanya dalam 6 tahun ini telah banyak menempa anakku menjadi anak yang tangguh, tidak manja. Tidak kuceritakan tentang rumah mewahnya dulu, biar mentalitasnya tidak kendor, tetap menjadi anak pekerja keras, seusianya sedang tahap belajar, belajar menghadapi hidup, dsan materi yang harus kamu kerjakan sekarang tidak mudah anakku. aku hanya sering cerita kalau ibunya adalah wanita yang sangat cantik. Ketika dia bertanya: apa aku pernah melihat ibu sebelumnya?

Musik mengalun, wajah nanar. Lampu redup, padam

Apa sebabnya perut bumi lapar, dan mengoyak daging mentah

Nanar diretaknya permukaan

Kematian itu telah bangunkan tidur mereka

Pagi hari berseka muka dengan darah.

Masa kembali berikan guratan luka

Dan parah

Mengangah sampai bernanah

Dan tumpah ruahlah air mata menggantikan mata air.

Menawarkan laut selatan, membekukan lahar merapi

Gusti, apakah ini lukisan mautmu

Atas kanvas yang coreng moreng warna gelap

Apakah ini bagian bait dari doa kami

Yang terhenti, dan merajam lewat maksiat

Gusti. Jangan bagi sengsara kami padi anak cucu kami

Cukup kami

Dan sampai disini

Kala, masa, bencana…..

Mulut jami telah terkatup

Tak berdaya……….

selesai

KARYA INI AKU DEDIKASIKAN UNTUK PARA KORBAN GEMPA JOGJA

Gepeng Nugroho, 2005

Kampung Kardus

Sebuah perkampungan kumuh, bangunan-bangunan dari katdus. Orang-orang beraktifitas seperti biasanya, mengumpulkan barang-barang bekas, berangkat sekolah dan lain sebagainya, layaknya kehidupan perkampungan pemulung.

Siti : ahhhhh…… hari ini ndak di sangoni lagi. Suruh puasa sama simbok. Katane seperti biasane : ndok selagi masih sekolah kamu harus prihatin, kita ini orang miskin, ndak usah jajan ndak apa-apa, nadak bakalan mati, mending kamu puasa saja, biar pinter. Walah tiap hari kok suruh puasa.

Rahmi : ndok, piye to ora ndang mangat, malah gedumelan. nopo? Ngglendeng simbok, karena ngak disangoni, iya?

Siti : siapa yang nglendeng simbok, wong lagi ngapalin pelajaran kok. Katane suruh pinter.

Rahmi : ngapalin pelajatan kok sambil menjab-menjeb.

Siti : pelajaran drama kok, teater….. ini namanya mimik, ekspresi muka, kan harus ekspresif.

Rahmi : awas ya kalo ngglendeng simbok, kuwalat nanti!

Siti : walah….. ndak-ndak…..

Simbok berbalik kembali mau masuk kedalam rumah, siti menjeb mengejek rahmi, beberapa langkah jalan lalu jatuh terpeleset. Rahmi berbalik menengok.

Rahmi : jalan itu ngati-atu… cah wedok bedigasan!.

Siti : tenang mbok, ndak apa-apa, hanya kepleset. Aduuuhhhh.

Rahmi : bener nggak apa-apa? Apa mau pura-pura sakit biar mbok nulis surat ijin biar kamu bolos?

Siti : walah… ndak mbooookkk! Lagian sombong, mbok kan nggak bisa nulis, mau nulis surat ijin.

Rahmi : makanya jangan jadi orang bodo, walaupun nggak punya uang kamu harus tetep sekolah, biar pinter, bisa nulis surat ijin untuk anakmu mbesok.

Rahmi berblik masuk kedalam rumah.

Siti : dasar simbok…….. eh ntar kuwalat lagi…………

Siti exit

Masuk denok, kemudian duduk di sebuah kursi panjang

Denok : bosen, tiap hari seperti ini, ndak ada perubahan. Kalo seperti ini terus hidup juga ndak akan maju-maju.

Neneng masuk.

Neneng : kenapa nok? Sedal-sedul seperti itu? We di Tanya kok malah mlengos.

Denok : aku bosen.

Neneng : opo, bosen, kamu wes bosen sama aku, oh yoh….. kita ndak usah kekancan lagi, aku juga ndak pate`en ndak kekancan sama kamu!

Denok : wes, ndak usah ntrocos ndak karuan, makanya kalo ada sesuatu itu ditelaah terlebih dulu biar ndak mis komunikasi, aku kan belum selesai ngomongnya.

Neneng : apa lagi? Sudah cukup jelas penjelasan dari kamu tadi. Singkat dan jelas ndak usah di reply.

Denok : kosek to, sebentar…… aku kan ndak ngomong kan tadi kalo aku bosen sama kamu? Walaupun memang kamu orangnya mbosenin. Aku ini bosen dengan kehidupan kita sekarang, yang tengah kita jalanin ini. Apa kamu juga ndak bosen ? tinggal diantara rumah-rumah kardus, sampah-sampah. Kita ini seperti bukan manusia saja. Kita ini kaum masyarakat yang ndak dianggep oleh dunia.

Neneng : la terus maumu apa? Ndak ada yang bisa kita lakukan.

Denok : ya memang ndak ada kalo kita cuman bisa nerimo, berusaha dong.

Neneng : kita kan udah kerja siang malam, itu kan juga sudah usaha. Tuh tadi lihat mbak rahmi menyekolahkan si siti itu juga salah satu cara jalan untuk menuju sugeh. Siapa tahu setelah disekolahkan walaupun untuk makan saja sulit, kalo mau beyar sekolah saja nunjang sana sini cari utangan, tapi siapa tahu nanti siti jadi orang pinter, dapat kerjaan yang mapan, terus sugih. Itukan juga sudah upaya menuju sugeh.

Denok : kesuwen, kelamaan……. Selak uwanen.

Neneng : la maumu terus gimana?

Denok : aku mau pergi dari kampung kerdus ini. Aku mau nyari kerja.

Neneng : mau kemana kamu?

Denok : aku mau kemana saja, mungkin ke kota, asal tidak detempat ini

Tanpa disadari mbok denok datang

Denok : pokoknya aku mau kerja apa saja asal halal

Mbok : kamu mau kemana? Kamu ndak boleh pergi, lalu mbokmu ini sama siapa kalo kamu pergi.

Denok : mbok denok pengen jadi orang sugih mbok. Simbok kan seneng kalo jadi wong sugih?

Mbok : yang terpenting bagi simbok adalah kita tetep bisa kumpul. Makan ndak makan asal kumpul.

Denok : simbok harus dukung dong cita-cita luhur anakmu.

Mbok : kamu boleh kerja apa saja, dimana saja, asal masih tinggal bersama mbokmu dirumah.

Denok : ah simbok kolot, ra gaul.

Denok exit.

Mbok : ra gaul? Nok apa maksidte? neng apa majsudnya aku ndak gaul?

Neneng : simbok biar keliatan gaul pake celana jeans aja. Hahahahahaaa…….

Mbok : hus omong dleweran.

Mbok : Nok..... kamu ndak boleh tinggalin simbok

Mbok exit

Beberapa saat kemudian masuk surti

Surti : neeeng….. kamu harus Bantu aku neng. Ini penting, kamu akan sangat berjasa kalo bisa Bantu aku.

Neneng : apa sih

Surti : aku dapat surat dari kang samsul. Kang samsul kangen sama aku, pengen cepet ketemu. Sebentar lagi pulang.

Neneng : syukurlah kalo begitu, la terus apa hubungannya denganku? Kamu mau minta bantuan apa coba?

Surti : tolong bacain surat ini dong.

Neneng : lo.. kok…..

Surti : kamu kan tahu sendiri aku tidak bisa baca.

Neneng : kok kamu tahu tadi isi suratnya?

Surti : baru perkiraan aja.

Neneng membuka surat.

Neneng : lo kok tulisannya pake tinta merah?

Surti : itu tandanya cinta. Ah nggak gaul kamu. Kalo surat cinta itu kan harus penuh warna-warna cerah. Nggak pernah nulis surat pasti?

Neneng : Zaman gini masih surat-suratan, sms dong atau e mail.

Surti : walah jangan banyak ngomong, cepetan kamu bacain, tapi ingat jangan bocorin sama siapa-siapa ya, aku kan malu, siapa tahu isi suratnya juga hot.

Neneng : (membacakan surat) dek surti yang cantik…. Lama banget kakang ndak pernah kasih kabar sama adek. Gimana kabarnya sekarang dek?

Surti : baik kang, bagaimana kabarnya kang samsul?

Neneng : syukurlah kalo begitu, kang samsul baik-baik aja, tenang aja kamu ndak usah kawatir. Ada hal yang sangat penting yang ingin kakang sampaikan pada der sur.

Surti : apa itu kakang?

Neneng : kita kan sudah lama menjalin hubungan cinta.

Surti : maksud kakang pasti mau pulang terus mau ngelamar aku kan?

Neneng : bukan itu dek, justru karena sudah terlalu lama dan kayaknya tidak ada peningkaan bagi hati kakang, lagian disini kakang sudah menemukan yang lain, maka dengan berat hati dek, kakang putuskan untuk kita akhiri hubungan ini, kakang sudah berencana menikah dengan orang nggombong.

Surti : (menangis)

Neneng : jangan menangis to dek

Surti : (merebut surat kemudian merobeknya) kamu jahat kakang, kamu tidak setia ( menangis sambil exit)

Orang 1 : ada apa to?

Orang 2 : kamu nakalin surti po neng?

Neneng : kayak anak kecil saja, ini urusan hati dan perasaan. Love. Hart……

Orang 1 : walah ngomong pateng pentuntung, keduwuren. Ngomong wae tentang kerdus, kertas sekilo 700, plastic bekas. Hidup di tempat sampah kok ngomongin cinta.

Neneng : la wong bukan aku kok , surti. Le pateng penteleng kok nanggon aku.

Orang2 kembali beraktifitas kembali.

Beberapa saat kemudian masuk mbok sambil menangis.

Orang 2 : opo meneh…. Hari ini kok syarat dengan tangisan.

Mbok : neng denok minggat, kabur, eh pergi dari rumah., denok minggat.

Neneng : apa mbok?

Orang 1 : tenane?

Mbok : denok ninggalin surat ini.

Orang 2 : apa isinya?

Orang2 mulai berkumpul.

Mbok : makanya aku datang kesini, tolong bacakan suratnya neng, aku ndak bisa baca.

Orang 3 : ada apa to ini?

Orang 2 : denok minggat.

Orang 3 : lo critanya gimana kok ada acara minggat segala.

Mbok : sek kowe menengo sek, biar neneng baca suratnya.

Orang : jangan sama neneng, dia itu tukang ngawur kalo suruh baca surat.

Neneng : apa kamu aja nih yang baca???

Orang 3 : lo kamu kan tahu kalo aku tidak bisa baca. Ngece.

Neneng : yo wes makane meneng wae.:Simbok yang terhormat, maafkan denok, denok ndak pamitan pergi dari rumah, kalo denok pamit mesti simbok ndak mengijinkan, jadi denok langsung cabut saja. Tapi simbok ndak usah kawater, denok akan jaga diri baik-baik. Demikian juga simbok juga harus jaga diri baik-baik. Takecare mbok. Peluk cium dari ananda tercinta…. Muach…… denok.

Mbok : denok….. teganya kamu ndok ninggalin simbok sendiri…..

Orang orang kemudian ribut juga menenangkan simbok. Simbok pingsan, kemudaian beramai-ramai orang orang mengotongnya. Exit

Masuk siti, kemudian masuk rumah.

Siti : walah karo sambel meneh. Kapan pintere kalo tiap hari sama sambel teruuuuusssss.

Waktu berlalu. lima tahun setelah kepergian denok, suasana dikampung kardus belum banyak berubah. Siti sudah jadi mahasiswi di universitas elite karena dapat beasiswa. Neneng jadi tukang sayur. Dan mayoritas warga nasyarakat masih tetep sebagai pemulung.

Lurah mengadakan inpeksi mendadak didalam kampung.

Carik : nah disekitar sini maunya bos besar mau bangun real estate itu.

Lurah : yayayayaaa….. daerah seperti ini kok ya payu ya?

Carik : Mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita kan ndak ngerti yang menjadi planing bos besar dari kota itu.

Lurah : Tempat bosokan gini kok payu ya?

Carik : sekarang yang ndak laku itu apa to pak lurah. Sekarang banyak kekurangan lahan, natalitas semakin meningkat tetapi lahan tetap malah seol;ah makin menyempit..

Lurah : Kamu bisa mengatur semua ini to?. kamu harus bisa mengatasinya. Ini kan tugas mudah, bagaimana caranya saja kamu menyampaikannya. Mereka itu orang-orang bodo jadi gampang dikibulin. Kamu janjikan saja uang gantinya.

Carik : la memang sudah dijatah to dari bos besar? Semeternya 200 rb.

Lurah : bodo, kamu gak bakat sugeh. Bilang sama mereka tanah itu di beli seharga 50 ribu, kalo nggak mau akan dibongkar paksa. Lagian itu kan bukan tanah milik mereka. Uang ganti rugi itu diberikan juga karena kasian pada mereka.

Carik : sory pak lurah, mudeng deh saya.

Lurah : kamu pengen ngerasain naik mobil pribadi to? Dengfan musik yang jeduk-jeduk? Duit itu bisa buat beli mobil yang jeduk-jeduk.

Carik : duit saya yang utama mau tak buat bangun WC dulu ah pak. ;la wong saya kalo buang hajat masih dikali. Masak naik mobel jeduk-jeduk tapi buang hajadnya masih dikali.

Lurah : terserah kamu sajalah, kita atur sendii-sendiri duit kita.

Carik : yang terpenting kan kita dapat duit banyak to bos?

Lurah : kamu atur deh nanti.

Orang 4 : eee pak lurah kadingaren pak lurah mau datang kemari, bukan lagi kampanye kan bu?

Lurah : nah kebetulan kok sepi lagi pada kemana?

Orang 4 : ya biasa to bu, kerja. Ada apa to pak? Ada program sensus?

Lurah : (pada carik) kamu kumpulkan deh orang-orang sekarang.

Carik : (pada orang 4) kita mau ketemu dengan seluruh warga, kamu sekarang kumpulkan mereka ya, sifatnya penting dan sangat mendesak.

Orang 4 : la ya tapi ada apa?

Carik : Ada program kesejahteraan masyarakat yang harus segera disampaikan pada masyarakat.

Orang 5 : Pembagian bantuan subsidi BBM diajukan ya pak, atau malah di tambah?

Carik : Wes ndak usah cerewet, laksanakan saja tugas tadi, dasar wong susah, sugihe mung sugih omong.

Orang 4 : (melihat orang 5, kemudian memanggil) pak lurah sama sekdes mau ketemu dengan seluruh warga, ini sifatnya penting dan sangat mendesak. Kamu sekarang kumpulin seluruh warga, ini perintah langsung.

Orang 5 : (Pada orang 6) kamu bisa Bantu aku nggak? Tolong kumpulan seluruh warga. Aku sibuk.

Orang 6 : we malah ganti perintah!

Orang 4 : wes cepet.

Orang 5 dan 6 exit.

Orang 4 : beres sebentar lagi warga akan datang.

Carik : warga yang baik.

Beberapa saat kemudian warga mulai berdatangan.

Orang 1 : ada apa pak?

Orang 2 : kadingaren banget mengadakan sidak.

Orang 3 : apa itu sidak?

Otang 2 : infeksi mendadak.

Orang 1 : walah… inspeksi mendadak.

Bulurah : we neng kamu sekarang ganti profesi to? Sekaraang jualan sayur

Neneng : iya lah pak, lumayan sekarang ndak kotor lagi, sekarang bisa dandan

Orang 7 : walah memang kamunya saja yang mentel.

Neneng : orang jualan itu harus tampil cantik dan menarik biar jualannya laku.

Orang 7 : jualan apa dulu?

Neneng : ya sayur to, memangnya apa? kalo jualan sayur nglomprot kayak kamu ya males yang beli

Orang 7 : wela kok malah ngece to kowe neng ......

Terjadi kericuhan. .

Carik : wes… wes…. Saudara-saudara sekalian, sengaja saudara2 sekalian dikumpulkan mendadak oleh kami disini adalah ada hal yang sangat penting yang perlu saudara sekalian ketahui.

Orang 8 : (masuk) ada pembagian beras ya

Carik : pembagian beras gudulmu.

Semua : sokor…..

Carik : saudara sekalian, kami datang kemari untuk memberikan kabar gembira untuk kalian. Saudara2 saudara…. Wilayah ini, kampung kardus yang kalian tinggali ini akan segera dibangun real estate oleh kontraktor dari kota sana.

Semua bersorak gembira.

Neneng : la sek…. Tapi terus bagaimana nasib kita selanjutnya, apa teal state it uterus menjadi milik kita?

Carik : la kok gurih. Kalian akan dipindahkan dari tempat ini.

Orang 5 : digusur? Enak saja. Ndak bisa.

Carik : bisa. Kalian naninya akan di beri ganti rugi tiap warga untuk memcari tempat dan membangun rumah kembali.

Semua warga gaduh.

Orang 4 : berapa akan kalian beri kami ganti rugi.

Carik : ganti ruginya cukup besar. Lima puluh ribu.

Lurah : empat puluh saja.

Carik : maksud saya empat puluh ribu.

Warga tidak setuju.

Lurah : ya udah limapuluh ribu.

Carik : lo katanya 40 ribu pak?

Lurah : ini namanya strategi negosiasi

Carik : ya sudah saya naikkan menjadi 50 rb

Warga masih menolak dan makin ramai.

Carik : wah sudah ndak kondusif ini pak lurah.

Lurah : pokoknya kami atur.

Carik : baiklah kalo begitu, masalah ganti rugi nanti perwakilan dari kalian akan kami ajak berembuk di kelurahan. Kita tunggu di kelurahan.

Lurah dan carik exit.

Orang-orang masih gaduh, kemudian memilih perwakilannya untuk pergi kekelurahan.

Beberapa orang exit. Sementara yang lain kemudian berkerumun membicarakan penggusuran itu.

Beberapa saar kemudian masuk siti.

Siti : ada apa to mbok?

Rahmi : kita akan di gusur ndok.

Siti : digusur?

Rahmi kemudian cerita soal penggusuran itu.

Siti : waduh mbok, ndak bisa begitu, kalo gitu biar siti juga pergi kekelurahan.

Rahmi : Tenang semua ya, anakku siti yang akan berdialog dengan pak lurah, dia kan bocah sekolahan, bocah pinter, pasti bisa bernegosiasi untuk kepentingan kita.

Orang 7 : seng ngati-ati ya sit, kamu pasti bisa, kita serahkan tanggung jawab ini sepenuhnya kepadamu. Selamat berjuang nak. Hidup kampung kardus!!!!

Semua Orang : Hidup

Orang 4 : hidup siti Zulaikah permata sari ......

Orang 7 : sek... sek... sek sapa jenenge? Siti.....

Orang 4 : siti Zulaikah permata sari

Orang 7 : Apik tenan saiki jenenge....... kok ganti yo mi jenenge anakmu.... siti zaenab to?

Rahmi : Lak yo supaya keren to, sudah jadi mahasiswi.......

Orang 4 : hidup siti Zulaikah permata sari

Siti exit

Orang makin kwatir dan was-was dengan penggusuran itu. Mereka berharap penggusuran itu tak jadi di lakukan. Beberapa saat kemudian orang-orang yang ikut rapat dikelurahan kembali.

Orang 4 : bagaimana hasilnya?

Orang 6 : pokoknya aku tidak mau pergi dari tempat ini. Titik. Sampai darah penghabisan.

Orang 1 : (pada rahmi) anakmu itu lo, apa ada persengkongkolan dengan pak lurah? Kok malah memihak pada mereka?

Rahmi : apa iya?

Orang 1 : nanti Tanya aja sendiri

Masuk siti.

Siti : saudara-saudara sekalian, percaya deh sama saya, kita semua nantinya akan terbebas dari kesumpekan, kita kan tidak bisa terus-terusan tingggal ditempat ini? Tidak baik untuk perkembangan generasi kita nantinya, makanya kita harus pindah, percaya sama saya, saya kan mahasiswa jadi lebih pinter.

Rahmi : apa benar kamu juga sedah sekongkol dengan bu lurah. Tidak memihak pada kita?

Siti menarik rahmi

Siti : mbok, tenang saja, kita nanti akan dapat persenan dari bulurah. Kita akan dapat lebih banyak duit ganti rugi, ditambah uang tutup mulut. Bulurah telah mempercayakan pada saya untuk membantu carik. Pada urusan ini.

Rahmi : kamu aku sukolahkan bukan untuk membodohi orang yang memang bodo.

Siti : simbok, ini bisnis.

Orang 2 : pokoknya ya siti, kami tidak bakalan pergi dari tempat ini, apapun yang kamu katakan, kamu itu baru bocah wingi sore.

Seluruh warga ribut dan berdemo.

Orang 5 : sekarang kita hatus bertindak cepat, kita protes besar-besaran, kalo perlu anarkis. Mogok makan!

Orang 6 : nek kon mogok makan wegah, aku ra kuat!

Orang 5 : cuman menggertak saja, kalo ndak kita tuntut mundur pak lurah.

Semua warga berdemo. Exit

Masuk kontraktor, denok, pak lurah dan carik

Kontraktor : ya.. tanah ya bagus untuk dibangun, pasti akan untung. Iya kan rik?

Carik : (sambil mencatat) ya…. Ya bagus bos (gugup)

Kontraktor : sudah di distribusikan ganti rugi pada warga? Warga juga telah setuju kan dengan jumlah yang saya tawarkan. Apa perlu saya yang langsung melakukan kesepakatan dengan mereka?

Lurah : ooooooo…oo.o.o jangan-jangan, semua sudah beres kok, ganti rugi sudah disepakati warga. Besok lahan ini akan dikosongkan.

Carik : besok?

Lurah : menurut informasi warga telah membeli perumahan sederhana. Namun layak huni.

Kontraktor : jadi ganti rugi yang saya berikan layak bagi mereka. Trimakasih telah membantu saya dalam hal ini, pak lurah dan carik memang pejabat teladan.

Lurah : terimakasih atas kepercayaannya, kami sangat menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan kepada orang lain terhadap kami.

Kontraktor : Kita tinjau yang sebelah sana pak, sebelah sana calonnya saya bangun supermarket.

Mereka exit

Waktu berlalu. Penggusuran terjadi, seluruh warga panik. Terjadi kekerasan dan lain-lain.

Kemudian lengang.

Siti : Pak lurah, gimana janji bulurah, katanya mau kasih persenan.

Lutah : nanti kalo urusannya sudah selesai, pasti tak bayar

Siti : kapan bu???

Exit

Beberapa saat kemudian masuk denok

Denok : mbok aku pulang! (terkejut) lo ada apa ini? Kok jadi begini………

Siti : mbak denok?

Demok : siti ya? Wah pangling aku.. sudah gede ya?

Siti : kemana saja mbak selama ini?

Denok : ya kerja, jadi TKW diluar negri. Lumayan lah dek. Ada apa ini? (menangis) kok jadi begini?

Siti : (menangis) warga telah digusur

Denok : digusur? Lalu kemana semua warga, juga simbokku?

Siti : (menggeleng) simbok saya pun ndak ngerti dimana. saya sibuk ngurusin duit di bulurah saat penggusuran itu dilakukan. Saya tak membayangkan akan begini jadinya. Saya juga telah dibohongi oleh bu lurah. Seluruh warga padahal juga telah membenci saya, termasuk simbok saya yang telah sangat kecewa dengan saya. Saya bingung harus bagaimana?

Denok : simbok…..(menangis)

Masuk surti yang telah jadi gila karena dulu ditinggal pacarnya.

Surti : lo…. Lagi pada ngapain? Kok melankolis, ditinggal pacar ya? Tenang aja, semua lelaki memang seperti itu. Mendingan kita nyanyi bareng yuk……..

Selesai

Naskah ini banyak dimainkan oleh Teater Pelajar SMP
Gepeng Nugroho, 2005